Getarjambi.com,Muaro Jambi - Gaung ambisi Indonesia Emas 2045 kembali digaungkan. Kali ini dari Kabupaten Muaro Jambi, Jambi, lewat peluncuran Gerakan Ketahanan Pangan dan Energi yang dirangkai dengan pelantikan pengurus DPD HKTI Provinsi Jambi periode 2026-2029.
Agenda yang digelar Selasa (21/4/2026) itu dihadiri Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, Gubernur Jambi Al Haris, serta jajaran Forkopimda.
Di hadapan para pejabat dan pelaku sektor pertanian, Bupati Muaro Jambi Bambang Bayu Suseno (BBS) menegaskan program tersebut tak boleh berhenti sebagai seremoni.
“Ketahanan pangan dan kemandirian energi adalah pilar kedaulatan. Dari Muaro Jambi, kami ingin kontribusi nyata,” tegas BBS.
Acara diawali dengan penanaman jagung dan buah-buahan. Simbol itu sekaligus menjadi penanda dimulainya gerakan ketahanan pangan dan energi di daerah tersebut.
Namun tantangan sebenarnya justru berada setelah seremoni berakhir.
BBS memaparkan potensi lahan pertanian Muaro Jambi yang cukup besar. Sedikitnya terdapat 8.435 hektare kawasan pertanian pangan berkelanjutan dan 2.897 hektare lahan hortikultura, ditambah hamparan sawah serta kawasan perkebunan.
Potensi tersebut menjadi modal untuk mendorong Muaro Jambi berkontribusi lebih besar terhadap ketahanan pangan. Pemerintah daerah juga mendorong penggunaan teknologi pertanian modern hingga pengembangan bioenergi.
Persoalannya, potensi lahan belum otomatis berubah menjadi produktivitas.
Sejumlah pekerjaan rumah masih membayangi petani, mulai dari distribusi pupuk, akses permodalan, ketersediaan alat dan mesin pertanian, hingga kebutuhan modernisasi sektor pertanian.
Karena itu, BBS menaruh harapan besar kepada Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) agar tidak sekadar menjadi organisasi dengan struktur kepengurusan, tetapi benar-benar hadir di tengah persoalan petani.
“Kami butuh HKTI yang benar-benar bekerja, bukan hanya struktur,” ujar BBS.
Dukungan pemerintah pusat mulai mengalir. Kementerian Pertanian menyerahkan bantuan 84.525 kilogram benih padi untuk ditanam di lahan seluas 3.381 hektare.
Bantuan tersebut tentu menjadi tambahan modal bagi petani. Tetapi benih hanyalah titik awal.
Ujian sesungguhnya adalah apakah bantuan tersebut mampu meningkatkan produktivitas lahan, menekan biaya produksi, memperkuat pendapatan petani, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pelantikan pengurus HKTI juga dirangkai dengan pengukuhan Himpunan Tani Wanita. Keterlibatan perempuan dalam sektor pertanian pun mulai mendapat ruang yang lebih strategis.
BBS optimistis Muaro Jambi mampu mengambil bagian dalam agenda besar Indonesia Emas 2045. Bahkan, ia menargetkan daerah tersebut dapat menjadi bagian dari lumbung pangan nasional hingga dunia.
Optimisme itu kini berhadapan dengan pekerjaan rumah yang tidak sedikit.
Sebab, ribuan hektare lahan, bantuan benih, teknologi, hingga organisasi petani tidak akan banyak berarti jika tidak diikuti eksekusi di lapangan.
Pada akhirnya, masyarakat tidak hanya menunggu berapa banyak program yang diluncurkan. Mereka akan melihat berapa banyak hasil yang benar-benar dirasakan petani.
Muaro Jambi boleh menanam optimisme menuju 2045. Tetapi panennya akan ditentukan oleh kerja nyata, bukan sekadar seremoni.


Social Header